Definisi Lengkap Berbagai Sertifikat Rumah & Tanah di 99.co Indonesia

Apakah Anda pernah melakukan jual beli properti lewat situs 99.co Indonesia? Jika iya, Anda pasti mengetahui bahwa pada fitur pencarian 99.co Indonesia terdapat sebuah filter berupa sertifikasi rumah.

Filter sertifikasi sendiri berfungsi sebagai penyunting hasil pencarian properti agar rekomendasi listing yang keluar hanyalah properti-properti dengan jenis sertifikat yang Anda butuhkan.

Misalnya seperti ini, apabila Anda mencari rumah dijual di Bandung yang dilengkapi dengan Sertfikat Hak Milik (SHM), maka Anda hanya perlu mengubah filter sertifikasi menjadi ‘SHM.’

Nantinya, fitur pencarian 99.co Indonesia akan mengeluarkan sejumlah listing rumah dengan sertifikat SHM saja. Sehingga, Anda tidak perlu repot-repot mencari rumah dengan sertifikat tersebut satu per satu.

Bukan cuma itu saja, sebagai situs jual beli rumah terbesar dan terpercaya di tanah air, 99.co Indonesia dikenal sebagai laman dengan fitur pencarian yang sangat mendetail.

Anda bisa menyesuaikan lokasi rumah yang Anda inginkan, kisaran harganya, tipe rumah, market, hingga jumlah kamar tidur, kamar mandi, serta luas bangunan dan luas tanah sesuai dengan apa yang Anda cari.

Jenis-Jenis Sertifikat Rumah & Tanah di 99.co Indonesia

Kembali pada pembahasan awal mengenai sertifikat rumah dan tanah, pada filter sertifikasi rumah 99.co Indonesia, ada beberapa jenis sertifikat rumah dan tanah yang bisa Anda pilih.

Seperti halnya jenis sertifikat SHM, HGB, Hak Pakai, HGU, Hak Kelola, AJB, PPJB, hingga Strata Title. Akan tetapi, apakah Anda tahu pengertian dan fungsi dari masing-masing sertifikat tersebut?

Agar tidak salah, simak dulu yuk penjelasan mengenail jenis-jenis sertifikat rumah dan tanah di bawah ini.

  1. Sertifikat Hak Milik (SHM)
(Photo: Freepik)

Jenis sertifikat pertama pada filter sertifikasi 99.co Indonesia adalah Sertifikat Hak Milik (SHM). SHM sendiri disebut-sebut sebagai bukti kepemilikan atas rumah/tanah yang paling kuat.

Pasalnya, jenis sertifikat ini menunjukkan bahwa pemiliknya mempunyai hak penuh atas kepemilikan rumah dan lahan di bawahnya, sebab tidak ada lagi hak kepemilikan atas nama orang lain.

Jika Anda memiliki jenis sertifikat SHM, keuntungannya adalah sertifikat ini dapat dialihkan, seperti dijual, dihibahkan, diwariskan, dijadikan agunan untuk kredit, serta haknya dapat diperjualbelikan.

  1. Hak Guna Bangunan (HGB)

Hak Guna Bangunan (HGB) atau juga dikenal sebagai Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), adalah hak yang diberikan kepada seseorang untuk mendirikan bangunan di atas lahan milik orang lain.

Namun, HGB ini tidak berlaku selamanya, melainkan dalam jangka waktu tertentu saja. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pemiliki bangunan belum tentu merupakan pemilik asli dari lahan tersebut juga.

Pada umumnya, lahan dengan jenis sertifikat HGB banyak dimanfaatkan oleh para pengembang untuk membangun perumahan ataupun area komersil lainnya.

  1. Hak Pakai

Banyak yang menyangka bahwa Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai merupakan jenis sertifikat yang sama, padahal keduanya memiliki arti dan fungsi yang berbeda.

Sertifikat Hak Pakai sendiri merupakan bukti kuasa atas lahan kepada pihak lain untuk dikembangkan, baik untuk dibangun sebuah bangunan atau lainnya, sebelum diakui oleh negara ataupun orang lain.

Perbedaan keduanya terlihat dari subjek pihak yang menerima sertifikat tersebut. Berbeda dengan HGB, Hak Pakai dapat diberikan kepada Warga Negara Asing, baik individu ataupun suatu bahan hukum.

  1. Hak Guna Usaha

Hak Guna Usaha  (HGU) sendiri sebenarnya merupakan hak khusus untuk mengubah fungsi sebidang tanah yang dimiliki oleh negara menjadi lahan pertanian, perikanan, ataupun perikanan.

Lantas, apa bedanya HGU dengan Hak pakai? HGU sendiri hanya dapat diberikan untuk kebutuhan lahan pertanian, perikanan, atau peternakan yang luas tanahnya minimal 5 hektare.

Selain itu, karena lahan berstatus HGU merupakan milik negara, pemanfaatan lahan tersebut hanya diperuntukan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) saja, bukan untuk warga atau perusahaan asing.

  1. Hak Kelola
(Photo: Freepik)

Pengertian hak kelola sendiri mengacu pada pasal Pasal 2 ayat (3) huruf f UU Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yaitu

“Hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain berupa perencanaan peruntukandan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.”

Berdasarkan undang-undang tersebut pula lah, objek hak kelola sendiri dibagi menjadi dua, yakni tanah untuk pertanian atau tanah bukan untuk pertanian.

Selain itu, subjek penerima hak kelola diatur pada Pasal 67 Permenag No. 9/1999, yakni:

  • Instansi pemerintah termasuk Pemerintah Daerah;
  • Badan Usaha Milik Negara;
  • Badan Usaha Milik DaeraH
  • Persero;
  • Badan Otorita; serta
  • Badan hukum pemerintah lainnya.
  1. Akta Jual Beli (AJB)

Jangan salah ya, Akta Jual Beli (AJB) sendiri sebenarnya bukanlah sebuah sertifikat, melainkan sebuah surat perjanjian jual beli atas tanah, rumah, ruko, dan properti lainnya.

Akan tetapi, jenis sertifikat ini juga masih dianggap sah kok di mata hukum, selama dalam proses pembuatannya Anda melibatkan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sebagai pejabat yang berwenang.

Oleh sebab itu, jangan lupa untuk mengajukan pembuatan AJB saat Anda membeli rumah atau tanah dari 99.co Indonesia ya, agar proses transaksi jual beli tersebut berjalan dengan lancar dan aman.

  1. Perjanjian Pengikat Jual Beli (PPJB)

Para pembeli rumah atau tanah sering kali salah dalam membedakan antara PPJB dan AJB. Keduanya memang terdengar agak mirip, perbedaannya terletak pada sifat otentikasi masing-masing sertifikat.

PPJB merupakan ikatan awal antara penjual ataupun pembeli lahan yang bersifat di bawah tangan atau tidak dilakukan di hadapan PPAT. Perjanjian ini dibuat atas dasar kesadaran di antara kedua pihak terkait.

Hal inilah yang menjadi alasan terkuat mengapa antara PPJB dan AJB sangat berbeda. Jika Anda mencari rumah atau tanah bersertifikat PPJB, Anda bisa menemukannya di 99.co Indonesia.

  1. Strata Tile

Ingin mencari hunian vertikal di 99.co Indonesia? Maka carilah rumah dengan status sertifikasi strata tile.

Apa sih strata tile ini? Sertifikat strata tile merupakan jenis sertifikat yang menunjukkan kepemilikan atas satuan rumah susun. Selain itu, sertifikat ini menunjukkan hak kepemilikan bersama kompleks bangunan.

Ada dua hal yang diatur di dalam sertifikat strata tile, yakni hak eksklusif atas ruang pribadi dan hak bersama atas ruang-ruang publik yang terdapat pada bangunan tersebut.

Ruang pribadi di sini dapat diartikan sebagai unit apartemen atau rumah susun yang kita huni. Sedang ruang bersama meliputi fasilitas umum, seperti kolam renang, taman, dan lain-lain.

Itu tadi beberapa jenis sertifikat rumah dan tanah yang terdapat pada filter sertifikasi 99.co Indonesia.

Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, pengetahuan akan jenis-jenis sertifikat ini penting untuk Anda pahami ketika melakukan transaksi jual beli tanah atau rumah.

Setelah membaca ulasan di atas, Anda tentu sudah mengerti bukan perbedaan di antara masing-masing sertifikat?

Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *